Senin, 23 Februari 2015

Fiction: Hujan

Suatu hari, ada laki-laki yang sedang duduk di sebuah taman. Taman itu sangat indah. Bunga yang bermekaran, anak-anak kecil bermain dengan kupu-kupu, orang tua yang menyiapkan makanan untuk anak-anaknya yang tertawa riang, pohon-pohon begitu rindang, semua terlihat bahagia. Laki-laki itu bisa melihat kebahagiaan disekitarnya, tapi sayangnya ia tidak bisa merasakan kebahagiaan itu. Mungkin laki-laki itu tersenyum kepada anak kecil yang datang menghampirinya dan memberinya bunga. Tapi, ia tidak tahu apa arti dari senyum itu, apakah itu bahagia atau hanya menghargai kebahagiaan yang diberikan orang lain kepadanya.

Kemudian, laki-laki itu pergi dari taman itu.

Keesokan harinya, laki-laki itu datang kembali ke taman. Sayangnya, cuaca hari ini tidak seindah kemarin. Langit tidak terlihat marah, hanya terlihat sedih. Warna langit tidak sebiru biasanya, ia malah membawa langit abu dengan corak hitam sedikitnya. Tapi, langit tidak menghalangi keinginan laki-laki itu kembali duduk di bangku taman seperti hari-hari biasanya. Namun, ia lupa membawa payung hari ini.
"Ah, mungkin tidak akan hujan" katanya dalam hati, optimis.

Langit agaknya marah dengan keoptimisannya. Corak kehitaman langit itu mulai menebal, menjajah warna abu-abu dari langit. Orang-orang ditaman mulai berlarian mencari tempat untuk berlindung. Hanya satu orang yang masih di taman itu. Laki-laki itu.
"Ah, hanya hujan biasa, bukan hujan meteor" katanya dalam hati.

Langit menangis melihat keoptimisannya. Semakin deras dan deras. Namun, laki-laki itu belum beranjak dari kursi itu. Sampai satu ketika, seorang perempuan datang dan duduk disamping laki-laki itu. Perempuan itu melindungi laki-laki yang sedang duduk dibangku itu dengan payung yang ia bawa ditangannya.
"Jangan terlalu optimis dengan hujan, kadang langit ingin kita untuk sejenak berlindung dari tangisnya" kata perempuan kepada laki-laki yang sedang duduk di bangku taman itu.
"Aku tahu, aku hanya ingin duduk disini menikmati taman"
"Aku juga suka menikmati taman, rasanya menenangkan."
"Nah, itu tahu"
"Tapi, kalau hujan, aku tidak suka tetap berdiam seperti kamu ini"
"Aku hanya lupa membawa payung hari ini"
"Aku tahu, makanya aku sekarang bawa payung untuk kamu"
"Kamu siapa?"
"Seorang perempuan"
"Anak kecil pun tahu kalau kamu itu perempuan"
"Hahaha"
Laki-laki itu melihat kearah perempuan itu, "Kenapa kau membawa payung untukku?"
"Hanya ingin melindungimu, aku tidak suka melihat orang kehujanan"
"Aku ini bukan siapa-siapa"
"Kau ini seorang pria yang duduk di taman ini, dan aku tahu kau sejak lama"
Laki-laki itu terdiam, tak menjawab.
"Aku suka hujan, hujan itu menyadarkan kita, sekuat apapun kita pasti akan membutuhkan sebuah perlindungan, sadar atau tidak sadar" kata perempuan itu sambil menatap hujan. "Dulu, aku seperti kamu, aku merasa sangat kuat untuk menerjang hujan, terdiam berdiri tanpa perlindungan payung atau apapun. Tapi, setelahnya aku sadar, aku tidak kuat menahan kemarahan hujan. Aku butuh perlindungan. Makanya, aku bawa payung kemanapun aku pergi. Dan aku ingin membantu orang-orang sepertimu sadar akan hal itu"
"Kamu gak perlu membantuku, aku ini hanya seekor burung yang bisa terbang kemana saja dan menerjang topan, jika aku mau. Kamu gak perlu melindungiku dengan payung ini"
"Dan kamu gak perlu mengaturku untuk tidak melindungimu"
Laki-laki itu kembali terdiam dan melihat kearah perempuan itu.

Langit sudah mulai berhenti menangis. Mungkin perasaan langit sudah mulai membaik. Matahari perlahan mendatangi langit mendung. Cahaya matahari mulai menyinari taman itu. Orang-orang mulai keluar dari tempat perlindungannya dan kembali mewarnai taman itu.

Perempuan itu masih belum menutup payungnya.
"Matahari sudah muncul, langit sudah tidak menangis. Tutuplah payungmu" Ujar laki-laki itu.
"Sudahlah, jangan pikirkan aku. Terbanglah sesukamu, terbang kemanapun yang kamu mau. Jangan hanya terduduk di bangku ini. Kan kau ini burung yang bisa terbang sesukamu, maka terbanglah"
"Bagaimana denganmu?"
"Aku akan tetap disini, di taman ini. Kalau kamu sudah mulai lelah terbang, payung ini masih terbuka untuk kau jadikan tempat berlindung"

Laki-laki itu tersenyum kepada perempuan itu dan akhirnya ia pergi dari taman itu dan meninggalkan perempuan itu dengan payungnya yang masih terbuka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar