Kamis, 26 Februari 2015

Fiction: Stay

Hiruk pikuk kemacetan malam sangat terasa malam ini. Suasana dijalanan terlihat memanas ketika kendaraan beroda empat tidak bisa berlari layaknya cheetah yang sedang berlari. Namun malam ini, para pengendara cheetah itu tidak bisa menembus angin malam dengan cepat, karena gajah tertidur lemah didepan sana.
Untungnya aku hanya pengendara kura-kura, kalau aku ingin cepat, aku bisa menginjak pedal gas. Kura-kura milikku sudah di-upgrade, jadi bisa berlari melebihi cheetah. Tapi aku tak mau dan tak bisa. Sebagai pengendara kura-kura, aku sudah biasa berjalan lambat, jadi aku tidak perlu lelah mengeluarkan urat-urat nadi dari leherku. Aku tidak mau mati gara-gara urat nadiku copot karena hal yang gak penting. Mending, aku dengar lagu kesukaanku. Led Zeppelin - Stairway From Heaven.

Namaku Tania. Aku baru saja pulang dari kampus tercinta. Jam menunjukkan pukul 8.00. Ibuku pasti bertanya-tanya apa saja yang aku lakukan dikampus dari pagi tadi sampai malam begini. Aku tidak perlu menjawabnya, toh ibuku pasti sudah tahu jawabannya. Aku itu kuliah cuma jam 8.00 - 10.30, sisanya aku habiskan masa mudaku. Jangan sia-siakan masa muda, dan jangan menikah muda. Itu ibuku sendiri yang bilang, jadi kalau mau menyalahkan, ya salahkan kata-kata tadi. Aku sudah menurut dengan saran ibuku sendiri, benarkan?

"Aku gak peduli lagu ini ada hidden message atau apa, yang pasti lagu ini selalu enak buat didengar" Mario tiba-tiba komentar tentang lagu Stairway from Heaven. Mario itu teman dekatku, atau mungkin lebih dari teman dekat.
"True. I feel you. Atau jangan-jangan kita gini gara-gara kita udah kehipnotis dengan pesan rahasianya?" kataku bercanda.
"Atau mungkin kamu memang sudah memuja setan" Jawab Mario dengan tenang.
"Bodoh! mana mungkin aku memuja setan, setan yang memujaku, karena dia sudah membuatku berdosa"
"Mana ada manusia yang tidak berdosa"
"Aku lebih berdosa"
"Kenapa?"
"Karena aku manusia, hahahah" aku pukul pelan pundaknya dalam rangka bercanda dengannya.
"Ya.. ya.." Mario hanya menanggapinya dengan nada mengesalkan.
"Ih.. kesel banget. becanda doang elah!"
Mario hanya tersenyum. Tak kusadari mukaku memerah karena senyumnya.

Kami kembali terdiam dalam angin malam. Tak ada satu dari kita berbicara atau berdeham. Kami berdua terdiam, menikmati momen ini. Suara yang terdengar hanya suara Gwen Stefani yang menyanyikan lagu 4 In The Morning.
Kura-kura sudah melewati gajah yang terguling, akhirnya jalanan mulai normal. Para cheetah yang terjebak tadi kembali mulai berlarian menembus angin malam. Tapi aku, masih menikmati malam ini dengan berjalan tenang.

"Apa kita masih bisa tertawa lepas seperti tadi?" tanyaku kepada Mario.
"Semoga saja. Tidak ada yang tahu bagaimana hati orang"
"Kau benar. Bisa saja aku besok malah membenci"
"Dan kemudian aku mencinta"
Aku terdiam, senang atas perumpamaan tadi.
"Aku mungkin pria terjahat dalam hidupmu, aku harap kau bisa memaafkan aku"
"Yes, you are the meaniest man in my whole life"
"Kau layak membenciku"
"Aku ingin mencintaimu"
"Tidak dan jangan"
"Biarkan aku"
"Benci saja aku, jangan pernah mulai mencintai"
"Biarkan aku menikmati momen ini, karena aku akan merindukanmu"
"Mari nikmati momen ini"

Kura-kurapun berhenti di depan kandangnya, artinya aku sudah sampai didepan rumahku. Momen itupun menghilang, begitupun Mario.

Aku rindu kamu, Mario. Biarkan aku merindumu.

Senin, 23 Februari 2015

Fiction: Hujan

Suatu hari, ada laki-laki yang sedang duduk di sebuah taman. Taman itu sangat indah. Bunga yang bermekaran, anak-anak kecil bermain dengan kupu-kupu, orang tua yang menyiapkan makanan untuk anak-anaknya yang tertawa riang, pohon-pohon begitu rindang, semua terlihat bahagia. Laki-laki itu bisa melihat kebahagiaan disekitarnya, tapi sayangnya ia tidak bisa merasakan kebahagiaan itu. Mungkin laki-laki itu tersenyum kepada anak kecil yang datang menghampirinya dan memberinya bunga. Tapi, ia tidak tahu apa arti dari senyum itu, apakah itu bahagia atau hanya menghargai kebahagiaan yang diberikan orang lain kepadanya.

Kemudian, laki-laki itu pergi dari taman itu.

Keesokan harinya, laki-laki itu datang kembali ke taman. Sayangnya, cuaca hari ini tidak seindah kemarin. Langit tidak terlihat marah, hanya terlihat sedih. Warna langit tidak sebiru biasanya, ia malah membawa langit abu dengan corak hitam sedikitnya. Tapi, langit tidak menghalangi keinginan laki-laki itu kembali duduk di bangku taman seperti hari-hari biasanya. Namun, ia lupa membawa payung hari ini.
"Ah, mungkin tidak akan hujan" katanya dalam hati, optimis.

Langit agaknya marah dengan keoptimisannya. Corak kehitaman langit itu mulai menebal, menjajah warna abu-abu dari langit. Orang-orang ditaman mulai berlarian mencari tempat untuk berlindung. Hanya satu orang yang masih di taman itu. Laki-laki itu.
"Ah, hanya hujan biasa, bukan hujan meteor" katanya dalam hati.

Langit menangis melihat keoptimisannya. Semakin deras dan deras. Namun, laki-laki itu belum beranjak dari kursi itu. Sampai satu ketika, seorang perempuan datang dan duduk disamping laki-laki itu. Perempuan itu melindungi laki-laki yang sedang duduk dibangku itu dengan payung yang ia bawa ditangannya.
"Jangan terlalu optimis dengan hujan, kadang langit ingin kita untuk sejenak berlindung dari tangisnya" kata perempuan kepada laki-laki yang sedang duduk di bangku taman itu.
"Aku tahu, aku hanya ingin duduk disini menikmati taman"
"Aku juga suka menikmati taman, rasanya menenangkan."
"Nah, itu tahu"
"Tapi, kalau hujan, aku tidak suka tetap berdiam seperti kamu ini"
"Aku hanya lupa membawa payung hari ini"
"Aku tahu, makanya aku sekarang bawa payung untuk kamu"
"Kamu siapa?"
"Seorang perempuan"
"Anak kecil pun tahu kalau kamu itu perempuan"
"Hahaha"
Laki-laki itu melihat kearah perempuan itu, "Kenapa kau membawa payung untukku?"
"Hanya ingin melindungimu, aku tidak suka melihat orang kehujanan"
"Aku ini bukan siapa-siapa"
"Kau ini seorang pria yang duduk di taman ini, dan aku tahu kau sejak lama"
Laki-laki itu terdiam, tak menjawab.
"Aku suka hujan, hujan itu menyadarkan kita, sekuat apapun kita pasti akan membutuhkan sebuah perlindungan, sadar atau tidak sadar" kata perempuan itu sambil menatap hujan. "Dulu, aku seperti kamu, aku merasa sangat kuat untuk menerjang hujan, terdiam berdiri tanpa perlindungan payung atau apapun. Tapi, setelahnya aku sadar, aku tidak kuat menahan kemarahan hujan. Aku butuh perlindungan. Makanya, aku bawa payung kemanapun aku pergi. Dan aku ingin membantu orang-orang sepertimu sadar akan hal itu"
"Kamu gak perlu membantuku, aku ini hanya seekor burung yang bisa terbang kemana saja dan menerjang topan, jika aku mau. Kamu gak perlu melindungiku dengan payung ini"
"Dan kamu gak perlu mengaturku untuk tidak melindungimu"
Laki-laki itu kembali terdiam dan melihat kearah perempuan itu.

Langit sudah mulai berhenti menangis. Mungkin perasaan langit sudah mulai membaik. Matahari perlahan mendatangi langit mendung. Cahaya matahari mulai menyinari taman itu. Orang-orang mulai keluar dari tempat perlindungannya dan kembali mewarnai taman itu.

Perempuan itu masih belum menutup payungnya.
"Matahari sudah muncul, langit sudah tidak menangis. Tutuplah payungmu" Ujar laki-laki itu.
"Sudahlah, jangan pikirkan aku. Terbanglah sesukamu, terbang kemanapun yang kamu mau. Jangan hanya terduduk di bangku ini. Kan kau ini burung yang bisa terbang sesukamu, maka terbanglah"
"Bagaimana denganmu?"
"Aku akan tetap disini, di taman ini. Kalau kamu sudah mulai lelah terbang, payung ini masih terbuka untuk kau jadikan tempat berlindung"

Laki-laki itu tersenyum kepada perempuan itu dan akhirnya ia pergi dari taman itu dan meninggalkan perempuan itu dengan payungnya yang masih terbuka.

Jumat, 06 Februari 2015

Because every look and every breath every kiss still got me dying, still got me crying.

I’m praying that your eyes are the first to go
the way they looked when you smiled
the way they opened and closed
and your nose..

every single breath against my neck
and then your lips..

every empty promise made and said
please fade, fade to black..


but the nightmares come back



(눈,코,입 - tablo)

Hello, there!

Its been a long time, my dear blog.
The last time I visited you, when I was truly madly in love with someone.
Well, I'm still madly in love, just me. not him. I guess.
I dont know.

I'm not saying that I'm in love with a wrong person.
He's just, I dont know, different. lately.

Stupidly, I'm still blind. because I know I'm not the only one.
Just like what Sam Smith said.