Untungnya aku hanya pengendara kura-kura, kalau aku ingin cepat, aku bisa menginjak pedal gas. Kura-kura milikku sudah di-upgrade, jadi bisa berlari melebihi cheetah. Tapi aku tak mau dan tak bisa. Sebagai pengendara kura-kura, aku sudah biasa berjalan lambat, jadi aku tidak perlu lelah mengeluarkan urat-urat nadi dari leherku. Aku tidak mau mati gara-gara urat nadiku copot karena hal yang gak penting. Mending, aku dengar lagu kesukaanku. Led Zeppelin - Stairway From Heaven.
Namaku Tania. Aku baru saja pulang dari kampus tercinta. Jam menunjukkan pukul 8.00. Ibuku pasti bertanya-tanya apa saja yang aku lakukan dikampus dari pagi tadi sampai malam begini. Aku tidak perlu menjawabnya, toh ibuku pasti sudah tahu jawabannya. Aku itu kuliah cuma jam 8.00 - 10.30, sisanya aku habiskan masa mudaku. Jangan sia-siakan masa muda, dan jangan menikah muda. Itu ibuku sendiri yang bilang, jadi kalau mau menyalahkan, ya salahkan kata-kata tadi. Aku sudah menurut dengan saran ibuku sendiri, benarkan?
"Aku gak peduli lagu ini ada hidden message atau apa, yang pasti lagu ini selalu enak buat didengar" Mario tiba-tiba komentar tentang lagu Stairway from Heaven. Mario itu teman dekatku, atau mungkin lebih dari teman dekat.
"True. I feel you. Atau jangan-jangan kita gini gara-gara kita udah kehipnotis dengan pesan rahasianya?" kataku bercanda.
"Atau mungkin kamu memang sudah memuja setan" Jawab Mario dengan tenang.
"Bodoh! mana mungkin aku memuja setan, setan yang memujaku, karena dia sudah membuatku berdosa"
"Mana ada manusia yang tidak berdosa"
"Aku lebih berdosa"
"Kenapa?"
"Karena aku manusia, hahahah" aku pukul pelan pundaknya dalam rangka bercanda dengannya.
"Ya.. ya.." Mario hanya menanggapinya dengan nada mengesalkan.
"Ih.. kesel banget. becanda doang elah!"
Mario hanya tersenyum. Tak kusadari mukaku memerah karena senyumnya.
Kami kembali terdiam dalam angin malam. Tak ada satu dari kita berbicara atau berdeham. Kami berdua terdiam, menikmati momen ini. Suara yang terdengar hanya suara Gwen Stefani yang menyanyikan lagu 4 In The Morning.
Kura-kura sudah melewati gajah yang terguling, akhirnya jalanan mulai normal. Para cheetah yang terjebak tadi kembali mulai berlarian menembus angin malam. Tapi aku, masih menikmati malam ini dengan berjalan tenang.
Kura-kura sudah melewati gajah yang terguling, akhirnya jalanan mulai normal. Para cheetah yang terjebak tadi kembali mulai berlarian menembus angin malam. Tapi aku, masih menikmati malam ini dengan berjalan tenang.
"Apa kita masih bisa tertawa lepas seperti tadi?" tanyaku kepada Mario.
"Semoga saja. Tidak ada yang tahu bagaimana hati orang"
"Kau benar. Bisa saja aku besok malah membenci"
"Dan kemudian aku mencinta"
Aku terdiam, senang atas perumpamaan tadi.
"Aku mungkin pria terjahat dalam hidupmu, aku harap kau bisa memaafkan aku"
"Yes, you are the meaniest man in my whole life"
"Kau layak membenciku"
"Aku ingin mencintaimu"
"Tidak dan jangan"
"Biarkan aku"
"Benci saja aku, jangan pernah mulai mencintai"
"Biarkan aku menikmati momen ini, karena aku akan merindukanmu"
"Mari nikmati momen ini"
Kura-kurapun berhenti di depan kandangnya, artinya aku sudah sampai didepan rumahku. Momen itupun menghilang, begitupun Mario.
Aku rindu kamu, Mario. Biarkan aku merindumu.